Miris, Banyak Siswa SMA di Mindiptana Papua Belum Bisa Baca Tulis

- Rabu, 01 November 2017 19:21 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2017/11/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Papua (SIB) -Tim Ekspedisi NKRI 2017 koridor Papua bagian selatan menemukan banyak siswa SMA di Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Papua yang belum bisa baca tulis. Proses belajar mengajar juga terkendala minimnya fasilitas sekolah."Ada anak SMP atau anak SMA yang belum lancar untuk membaca, masih buta aksara lah. SMA itu hampir 40 persen, kalau SMP 50 persen, rata-rata seperti itu," kata Asep Anwar, mahasiswa UPI Bandung yang ikut Ekspedisi, Minggu (29/10).Asep mengatakan, antusiasme siswa untuk belajar di daerah itu cukup tinggi. Sayang hal itu tidak didukung oleh infrastruktur sekolah yang kondisinya memprihatinkan."Kalau pendidikan untuk siswa sangat bersemangat. Masuk pukul 07.00 WIT mereka sudah tiba pukul 06.45 WIT, cuma itu kekurangan pengajar dan fasilitas sangat tidak layak menurut saya," ujarnya.Selama tiga bulan melakukan ekspedisi di Mindiptana, dia mendapati sejumlah sekolah yang hampir roboh. Dinding sekolah juga banyak yang bolong."Pertama lantainya dari tanah, bangunan banyak yang mulai roboh. Bangunannya dari papan, atasnya bolong, pinggirnya bolong," imbuhnya.Selain itu, di beberapa sekolah satu bangku bisa ditempati empat orang siswa. Papan tulis juga banyak yang sudah rapuh tapi masih dipakai.Menurut Asep, pengajar di distrik tersebut biasanya datang sepekan sekali. Selain urusan di tempat lain, para pengajar juga terkendala akses jalan yang sulit ditempuh."Guru jarang hadir, kadang seminggu sekali kebanyakan guru kuliah di Merauke ada juga mengatur administrasi di Tanah Merah. Kenapa mereka lama, karena keadaan fasilitas jalan juga" kata dia.Normalnya, perjalanan dari Tanah Merah menuju Mindiptana bisa ditempuh selama 2 sampai 3 jam. Namun jika jalan berlumpur karena hujan, perjalanan bisa memakan waktu 2 hari."Kalau misalkan hujan, Mindiptana ke tanah merah bisa sampai 2 hari. itu akses darat, lumpur semua, jalan aspal bisa dibilang tidak ada," pungkasnya.Ekspedisi NKRI 2017 sudah dilakukan sejak 3 bulan lalu. Para peserta ekspedisi berasal dari berbagai kalangan seperti TNI, Polri, Mahasiswa dan relawan.Selain soal pendidikan, tim Ekspedisi NKRI 2017 juga melakukan pendataan tentang geologi, flora dan fauna. Hasilnya nanti akan diumumkan secara resmi setelah melewati penelitian pihak terkait. (detikcom/q)


Tag:

Berita Terkait

Sekolah

Pemko dan Polres Pematangsiantar Perkuat Sinergi Perlindungan Perempuan dan Anak Lebih Terpadu

Sekolah

Polres Simalungun Ungkap Kasus Pencurian Genset

Sekolah

Pemkab Simalungun Gelar Gerakan Pangan Murah di Tapian Dolok

Sekolah

Seorang Kakek Aniaya Warga dengan Kapak di Karo, Pelaku Serahkan Diri ke Polisi

Sekolah

Lapas Kelas I Medan Panen Kangkung

Sekolah

Mulai Hari Ini, Tarif Parkir Roda 2 dan 4 di Medan Turun Rp1000