Kemendikbud Akui Sulit Menghadirkan Buku ke Daerah 3T

- Rabu, 01 November 2017 19:23 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2017/11/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Jakarta (SIB) -Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebut kesulitan menghadirkan buku berkualitas di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T)."Selain buku cerita berkualitas, belinya susah," kata Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad usai pembukaan Festival Gerakan Literasi di Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Jumat (27/10).Ia menuturkan suksesi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan beberapa tahap mulai 2015. Ia menjabarkan tahap I, membiasakan pelajar membaca 15 menit buku bukan pelajaran di sekolah setiap hari. Kemendikbud dan Satgas Literasi, ia mengatakan, aktif menyosialisasikan 15 menit membaca pada pemerintah daerah, ekosistem sekolah dan dinas pendidikan. "Sebagian besar sudah lakukan, kampanye masif," ujar dia.Hamid mengatakan pasokan buku GLS dapat dianggarkan dari sisa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kendati, ia berujar setiap sekolah memiliki strategi memperbanyak buku bukan pelajaran di sekolah. Ia mencontohkan banyak sekolah mewajibkan anak kelas I membeli buku.Anak itu diwajibkan membaca, meresensi dan menyetorkan hasilnya pada guru. Buku itu dihibahkan pada sekolah. "Jika sekolah 500 anak, ada 500 buku dan itu bisa dipinjam. Jadi muter," ujar dia.Hamid mengatakan praktik kreativitas itu baru dilakukan di kota-kota. Sebab, orang tua di daerah terpencil kesulitan mendapat buku nonpelajaran. Menurutnya, target GLS pada 2018, yakni setiap sekolah mengumpulkan dan membukukan tulisan anak-anak. Kendati, praktik itu sudah banyak dilakukan sekolah-sekolah."Guru menilai mana tulisan anak yang bagus, dibukukan, yang bukukan sekolah," ujarnya.Hamid mengatakan GLS memasuki tahap II pada 2016, yakni memasukkan literasi pada kurikulum. Tahap ini menginstruksikan sekolah tak hanya membimbing anak membaca 15 menit. Tahap ini meminta anak meresensi hasil bacaan, menulis cerpen dan puisi. Ia mengatakan Satgas GLS melanjutkan tahap II pada 2017, yakni mengintegrasikan literasi ke pembelajaran.Hamid berujar Festival Gerakan Literasi berlangsung tiga hari di Kemendikbud, Senayan, Jakarta pada 27-29 Oktober 2017. Menurutnya, GLS perlu dapat dukungan semua pemangku kepentingan, seperti, guru, kepala sekolah, pegiat literasi, masyarakat, orang tua, akademisi. Ia berharap Festival Gerakan Literasi menjadi ajang berbagi praktik membudayakan literasi. (Rol/q)


Tag:

Berita Terkait

Sekolah

Pemko dan Polres Pematangsiantar Perkuat Sinergi Perlindungan Perempuan dan Anak Lebih Terpadu

Sekolah

Polres Simalungun Ungkap Kasus Pencurian Genset

Sekolah

Pemkab Simalungun Gelar Gerakan Pangan Murah di Tapian Dolok

Sekolah

Seorang Kakek Aniaya Warga dengan Kapak di Karo, Pelaku Serahkan Diri ke Polisi

Sekolah

Lapas Kelas I Medan Panen Kangkung

Sekolah

Mulai Hari Ini, Tarif Parkir Roda 2 dan 4 di Medan Turun Rp1000