Rantauprapat (SIB)- Tasya Lonika Aritonang, putri pendeta GKPI Resort Rantauprapat, Pdt G Aritonang STh dan M br Hutagalung, lulus seleksi Bina Antarbudaya, lembaga nirlaba non-pemerintah yang mengelola program pertukaran pelajar di Indonesia. Putri kedua dari 3 bersaudara itu memilih belajar di Amerika Serikat. Tasya yang ditemui dirumahnya Selasa (17/6) mengatakan sesuai pengumuman yang dikeluarkan Yayasan Bina Antarbudaya di internet, dari banyak peserta seleksi, 29 orang dinyatakan lulus sampai tahap III, termasuk Tasya Lonika dengan nomor peserta 0135, SMAN 2 Rantau Utara. "Saya mau belajar di Amerika Serikat, karena Amerika negara paling berpengaruh di dunia pada semua bidang," sebut Tasya, kelahiran Tarutung 10 Agustus 1998, yang bercita-cita jadi dokter spesialis anak.Tidak mau ketinggalan kesempatan, Tasya pun membenahi dan mempersiapkan berkasnya untuk dikirim ke Jakarta dalam seleksi tahap nasional. Sebab, berkas berupa fotocopy ijazah SMP, fotocopy SKHUN SMP, fotocopy rapor kelas IX dan fotocopy rapor SMA kelas X harus sudah sampai hari Kamis dan Jumat (19-20 Juni) di sekretariat Bina Antarbudaya Chapter Medan Jalan Setia Budi."Karena dalam pengumuman disebut, apabila lalai dan terlambat akan gagal. Saya nggak mau gagal," ungkapnya bergegas menyusun berkasnya untuk segera dikirim.Bina Antarbudaya ini bekerjasama dengan AFS Intercultural Programs yang telah banyak mengirim siswa-siswi ke berbagai penjuru dunia dengan misi untuk saling mengenal kebudayaan masing-masing.Tasya mengetahui program itu dari guru lesnya di Nana Nini, Suerni yang bertemu dengan kepala sekolah SMK Siti Banun Sigambal, bercerita tentang lembaga nirlaba non-pemerintah tersebut. Kemudian, Suerni menceritakan kepada Tasya, lalu ikut test sampai 3 kali lulus. Saat seleksi 27 April 2014, 18 Mei 2014 dan 8 Juni 2014 mereka cuma dua orang dari Labuhanbatu.Tasya lulus.Pdt G Aritonang STh mengharapkan putrinya, semoga bisa mengikuti program pertukaran pelajar Indonesia ini untuk lebih membuka wawasan internasional dan menopang kemandiriannya. "Ini peluang. Jadi, kami orangtuanya berharap semoga putri kami bisa ikut belajar di luar negeri lewat program pertukaran pelajar yang dikelola Bina Antarbudaya yang bekerjasa dengan AFS Intercultura Program ini," harapnya.Suerni SS, guru les Bahasa Inggris Tasya, mengaku langsung menawari program ini kepada Tasya setelah menerima informasi dari Kasek SMK Siti Banun yang akan mengirim muridnya Dea ke Finlandia. Ia memilih Tasya karena pintar, cerdas, disiplin dan berani. "Dia yang paling mampu. Dan saya pengen anak murid saya berprestasi, maka saya dukung terus dia belajar sampai ke luar negeri, untuk menopang kemampuan bahasa Inggrisnya," sebut Suerni, seraya mengatakan akan memberi beasiswa kepada Tasya berupa gratis uang les selama setahun mulai Juli ini. (D9/i)