Kemdikbud Perbaiki Mutu Guru dengan Metode In dan On

- Rabu, 12 Juni 2019 20:45 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2019/06/7926_Kemdikbud-Perbaiki-Mutu-Guru-dengan-Metode-In-dan-Onpembalut.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Ilustrasi

Jakarta (SIB) -Mutu guru masih jadi kendala tersendiri bagi pemerintah, terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Apalagi, peningkatan mutu guru ini menjadi salah satu program prioritas 2020 untuk mendukung kesiapan sumber daya manusia (SDM) sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Supriano, akan memberlakukan pelatihan guru dengan metode terbaru, yakni metode in dan on. Metode ini dirancang untuk merespons hasil Ujian Nasional (UN) yang diberikan sampai level analisis capaian butir soal dan bermanfaat untuk mendiagnosa kelemahan pembelajaran di suatu zona.

Supriano menuturkan, dengan menggunakan beberapa kajian, pihaknya mengubah siklus pelatihan guru dengan metode yang dinamakan metode in dan on sebanyak 82 jam, dengan perincian lima kali in dan tiga kali on.

"Pelatihan skema in on ini dimulai dari tahap guru bertukar pikiran hingga evaluasi perubahan kelas yang selama ini belum pernah dilakukan. Dulu, guru yang sudah selesai pelatihan langsung pulang dan tidak ada kontrol lagi," kata Supriano kepada SP di Gedung Kemdikbud Jakarta belum lama ini.

Terdapat beberapa tahap dalam proses pelatihan in on. Pertama, instruktur nasional melatih guru inti yang merupakan guru berprestasi di setiap mata pelajaran dari semua zona. Para guru inti ini akan bertanggung jawab di mata pelajaran per zona.

Kedua, pelatihan dimulai dengan in. Ketika in pertama, terjadilah refleksi di antara guru terkait kendala dengan mengacu pada UN, kompetensi inti dan kompetensi dasar (KI-KD) dan lainnya. Pada in kedua, dibuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang berbeda antara guru satu dan yang lain. Setelah RPP selesai di in dua, masuk ke on 1 yakni guru kembali ke kelas untuk mengajar.

"Dari hasilnya, disampaikan bagaimana mengajar yang menyenangkan, menggali agar anak bisa bertanya. Di sini terjadi proses. Setelah on 1 masuk lagi in 3. Misal ternyata di kelas ada masalah. Terjadi lagi perbaikan di in 3. Masuklah on 2, dipraktikkan lagi hasil dari musyawarah perbaikan. Setelah on 2, masuk lagi ke in 4, perbaikan dan diskusi lagi, masuk lagi ke on 3. Masuklah lagi ke in 5 untuk penyempurnaan atau perumusan best practice. Kalau dihitung, 3 on 5 in, itu 82 jam," terangnya.

Menurut Supriano, Jika sebelumnya pola pelatihan guru dilakukan secara umum dan massal, mulai tahun ini pola itu akan diubah menjadi lebih fokus pada permasalahan atau kelemahan. Hasil UN akan dianalisis per zona, sehingga mempermudah peningkatan kompetensi pembelajaran di kelas.

"Hasil UN ini bermanfaat sekali untuk peningkatan proses pembelajaran. Tahun ini kita fokus dulu di tingkat Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah, red) yang sudah siap. Maka pelatihan berbasis zona tidak lagi menyiapkan modul secara umum, tapi dipecah berdasarkan unit-unit. Bisa jadi di satu zona dengan zona lain berbeda masalahnya. Atau sama-sama Matematika tapi berbeda materinya. Kita fokus ke masalah," terang Supriano.

Pelatihan akan dilanjutkan hingga tahap evaluasi. Ini tentu berbeda dengan yang dilakukan selama ini, dimana pelatihan yang diberikan kepada guru tidak ditindaklanjuti dengan evaluasi. Alhasil, pemerintah tidak memiliki gambaran tentang kesiapan guru dalam mendidik siswa.

Supriano menjelaskan, RPP berfokus pada 70% pedagogik dan 30% konten. Pasalnya, In dan On ini fokus pada proses pembelajaran bukan materi. Sebab, ada guru yang memiliki kemampuan di atas rata-rata tetapi tidak dapat mengajar siswa dengan baik.

Dana Rp 840 Miliar

Menurutnya, skema ini akan mulai dijalankan oleh guru SMP. Pasalnya, materi dan kesiapan untuk menjalankan metode in on baru tingkat SMP yang tersebar di 4.580 zona untuk semua mata pelajaran.

Selain itu, skema ini juga melibatkan peran serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan masing-masing zona. Adapun anggaran yang disiapkan untuk program ini mencapai Rp 840 miliar.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas), Harris Iskandar mengatakan, pihaknya akan segera melakukan item analysis dengan Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Balitbang untuk menetapkan strategi perbaikan untuk pendidikan kesetaraan.

"Kami mohon dari GTK, karena ini para tutornya juga banyak yang belum mendapatkan pelatihan higher order thinking skills. Mudah-mudahan dari sini kita segera bisa menyelesaikannya," tuturnya.

Sebagai informasi, hasil UN selama lima tahun terakhir dari 2015 sampai 2019 dapat diakses melalui laman

http://puspendik.kemdikbud.go.id/hasilun. Ada pun informasi yang ditampilkan cukup beragam, di antaranya gambaran umum capaian satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional yang dapat dilihat dari statistik umum. Termasuk informasi detail tentang capaian di setiap butir soal juga dapat dipelajari dari laman tersebut. (Beritasatu.com/q)

Berita Terkait

Sekolah

Lapas Labuhan Ruku Gelar Rapat Bahas Penyaluran Bantuan Sosial Selama Ramadhan

Sekolah

Pastikan Mudik Aman, KAI Divre I Sumut Siagakan 31 Lokomotif dan 73 Kereta Laik Operasi

Sekolah

Bupati Humbahas Ingatkan ASN Bekerja Jujur, Berbuat Terbaik dan Jangan Culas

Sekolah

Siswa SMPN 4 Pematangsiantar Torehkan Prestasi Futsal

Sekolah

Buka Puasa Bersama di Rumah Dinas, Harli Siregar : Kuatkan Iman dan Ketaqwaan di Era Teknologi

Sekolah

Wali Kota Dukung Cap Go Meh 2026, Perayaan Digelar Usai Tarawih untuk Jaga Toleransi