Beban Administrasi Guru Perlu Dikurangi untuk Benahi Pendidikan

- Rabu, 19 Juni 2019 19:52 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2019/06/31_Beban-Administrasi-Guru-Perlu-Dikurangi-untuk-Benahi-Pendidikan.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Ilustrasi
Yogyakarta (SIB) -Pakar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Wuryadi mengatakan beban tugas administrasi para guru perlu dikurangi agar mereka memiliki kemampuan lebih besar untuk berkonsentrasi membenahi kualitas pendidikan di sekolah.

"Tugas-tugas yang bersifat administratif perlu dikurangi agar guru memiliki waktu lebih banyak untuk mendidik, bukan sekadar mengajar," kata Wuryadi di Yogyakarta, Senin (17/6).

Hal itu disampaikan Wuryadi, menanggapi munculnya video hubungan seksual di dalam kelas yang dilakukan siswa-siswi SMK di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kasus itu, menurut dia, merupakan dampak dari rendahnya kualitas pendidikan di sekolah.

Ia berpandangan siswa di sekolah di era saat ini cenderung sulit dikendalikan dibandingkan pada masa lalu. Pasalnya, mereka saat ini memiliki sumber informasi yang sangat luas dari alat-alat digital atau gadget.

"Itu sulit dikendalikan guru maupun orang tua. Apalagi kalau orang tuanya bersifat keras dan sama sekali tidak peduli dengan perkembangan anaknya," kata dia.

Tanpa konsentrasi lebih banyak untuk membenahi kualitas pendidikan, menurutnya, sulit bagi guru untuk membentuk moral siswa di era digital ini karena pendidikan dan pengajaran merupakan dua hal yang berbeda.

"Mendidik itu lebih pada aspek memberikan kemerdekaab nurani. Sedangkan mengajar itu lebih pada menuntun kemerdekaan pikiran atau otak," kata mantan Ketua Dewan Pendidikan DIY ini.

Menurut Wuryadi, saat ini guru lebih banyak disibukkan dengan administrasi yang merupakan konsekuensi dari pelaksanaan Kurikulum 2013 yang diterapkan sejak era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh.

"Sejak era itu guru mendapat 25 macam beban administrasi akibatnya tugas mendidik anak jadi sekadar mengajar saja," kata dia.

Padahal, lanjut dia, jika merujuk pada konsep Tri Sentra Pendidikan seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, program pendidikan tidak sekadar melibatkan sekolah atau satuan pendidikan, melainkan juga melibatkan keluarga dan masyarakat.

Dengan menerapkan program itu, maka sekolah, keluarga, dan masyarakat akan saling bertukar informasi secara terpadu mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan anak atau siswa.

"Sehingga apa yang tidak mampu dijangkau sekolah akan dijangkau oleh lingkungan masyarakat dan keluarga. Semuanya harus aktif," kata dia. (Ant/t)

Berita Terkait

Sekolah

Lapas Labuhan Ruku Gelar Rapat Bahas Penyaluran Bantuan Sosial Selama Ramadhan

Sekolah

Pastikan Mudik Aman, KAI Divre I Sumut Siagakan 31 Lokomotif dan 73 Kereta Laik Operasi

Sekolah

Bupati Humbahas Ingatkan ASN Bekerja Jujur, Berbuat Terbaik dan Jangan Culas

Sekolah

Siswa SMPN 4 Pematangsiantar Torehkan Prestasi Futsal

Sekolah

Buka Puasa Bersama di Rumah Dinas, Harli Siregar : Kuatkan Iman dan Ketaqwaan di Era Teknologi

Sekolah

Wali Kota Dukung Cap Go Meh 2026, Perayaan Digelar Usai Tarawih untuk Jaga Toleransi