Guru Mayoritas Pelaku Cabul Terhadap Siswi, Seleksi Ketat

- Rabu, 11 Desember 2019 22:08 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2019/12/7588_Guru-Mayoritas-Pelaku-Cabul-Terhadap-Siswi--Seleksi-Ketat.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
liputan6.com
Ilustrasi

Jakarta (SIB)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus kekerasan seksual pada anak di sekolah. Di sepanjang tahun 2019 ini, KPAI mencatat ada 17 kasus kekerasan seksual yang terjadi dan mayoritas pelakunya adalah oknum guru.

"Kalau kekerasan di pendidikan dari pengaduan yang kami terima itu terjadi penurunan, namun level kekerasannya justru meningkat dan yang agak mengerikan adalah kekerasan seksual karena terjadi peningkatan," ujar Komisioner KPAI Retno Listyarti, di Hotel Rivoli, Jl Kramat Raya Jakarta Pusat, Senin (9/12).

KPAI mencatat mayoritas pelaku kekerasan seksual adalah guru sebesar 88 persen sedangkan sisanya 22 persen merupakan kepala sekolah. Retno mengatakan guru yang pernah diduga melakukan kekerasan seksual merupakan guru bimbingan konseling (BK), guru olahraga bahkan guru agama.

"Ini pelakunya adalah guru dan wali kelasnya. Mengerikannya guru-guru ini adalah guru olahraga dan guru agama, guru BK. Guru-guru ini seharusnya melindungi anak di sekolah tapi malah justru menjadi pelaku kekerasan," katanya.

Lebih lanjut, kekerasan seksual terbesar terjadi di lingkungan sekolah dasar. Retno mengatakan kebanyakan modus kekerasan itu karena adanya iming-iming nilai bagus.

"Dari 17 kasus itu, terjadi di SD 64,70 persen, SMP 23,53 persen, dan SMA 11,77 persen. Kenapa tinggi di level SD, karena di usia ini anak mudah diiming-imingi, takut diancam oleh guru dengan nilai jelek, atau tidak naik kelas," katanya.

Oleh karena itu, Retno meminta pemerintah untuk lebih ketat menyeleksi tenaga pengajar. Dia juga berharap pihak sekolah lebih peka terhadap lingkungan.

"Screening (penyeleksiannya) ya kayaknya harus lebih ketat, paling tidak jangan sampai mereka memilih guru yang potensi gitu. Kayak yang terakhir memang ada yang memiliki kelainan seks, secara sepintas kan kita tidak bisa lihat ya orang punya kelainan seks," katanya.

"Nah, ini penting bagaimana sekolah memiliki perlindungan termasuk CCTV, tapi yang pasti adalah bagaimana kita bisa lihat sesama guru. Ini kok kayaknya suka ngumpulin anak sekolahnya itu patut dicurigai, yang gitu-gitu lah," lanjut Retno. (detikcom/f)

Berita Terkait

Sekolah

Lapas Labuhan Ruku Gelar Rapat Bahas Penyaluran Bantuan Sosial Selama Ramadhan

Sekolah

Pastikan Mudik Aman, KAI Divre I Sumut Siagakan 31 Lokomotif dan 73 Kereta Laik Operasi

Sekolah

Bupati Humbahas Ingatkan ASN Bekerja Jujur, Berbuat Terbaik dan Jangan Culas

Sekolah

Siswa SMPN 4 Pematangsiantar Torehkan Prestasi Futsal

Sekolah

Buka Puasa Bersama di Rumah Dinas, Harli Siregar : Kuatkan Iman dan Ketaqwaan di Era Teknologi

Sekolah

Wali Kota Dukung Cap Go Meh 2026, Perayaan Digelar Usai Tarawih untuk Jaga Toleransi