Jakarta (SIB)- Ujian Nasional yang sebentar lagi bergulir pertengahan bulan April ini tidak sedikit membuat para siswa cemas bahkan stres. Pasalnya, selain mindset siswa yang telah tertanam bahwa UN menentukan kelulusan siswa, UN juga menjadi acuan prestasi dimana siswa yang meraih nilai buruk akan dinilai gagal dalam pembelajaran selama 3 tahun di SMA/K.
Menurut Psikolog anak dan keluarga dari Lembga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Mira D. Amir, Psi, kondisi ini wajar asalkan anak mampu mengubah kecemasan itu menjadi pemacunya belajar giat.
"Kecemasan kecil itu good, bisa menjadi pemacu dia (anak) mempersiapkan ujian. Misalnya dia belajar, mengulang, memantau hasiltry out," ujar Mira.
Menurutnya, ujian semisal UN dapat menjadi salah satu stressor bagi anak, karena harapan lulus ujian terganjal peluang yang terbatas. "Ada harapan tapi peluang terbatas. Mereka harus melewati nilai tertentu. Masuk SMP atau SMA punya nilai minimum tertentu," kata Mira.
Mira mengatakan bahwa, setiap anak bisa mempersepsikan ujian secara berbeda. Jika cemas melanda, kata dia, hal ini bisa berhubungan dengan latar belakang anak yang memiliki kemampuan belajar berbeda-beda hingga kecenderungan dirinya mudah cemas.
Jadi kesimpulannya, rasa cemas yang dirasakan pada anak memang wajar. Persepsi anak memang berbeda-beda dalam menyikapi ujian, namun bisa jadi kecemasan tersebut dipandang sebagai kesempatan untuk mendapat nilai bagus. Nah, yang perlu diperhatikan adalah jika rasa cemas anak justru dipandang negatif ketika anak tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi ujiannya.(Kesekolah/com/c)