Jakarta (SIB) - Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Indonesia meminta hasil Ujian Nasional (UN) diberikan kepada PTN lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan. Tujuannya, agar PTN dapat menggunakan hasil UN tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam proses Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)-Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2015.
Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Indonesia, Hery Suhardiyanto, mengatakan hal ini Senin (27/4). "Kami berharap dapat menerima informasi tersebut lebih cepat dari rencana semula," ucap Hery.
Ia mengatakan, berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus sudah menyerahkan hasil UN kepada panitia SNMPTN-SBMPTN pada 2 Mei 2015. Jadwal tersebut, menurutnya, ditetapkan menyesuaikan waktu pengumuman SNMPTN yang akan dilakukan seminggu kemudian pada 9 Mei 2015.
Namun, MRPTN kini meminta jadwal penyerahan hasil UN tersebut dipercepat karena penetapan jadwal sebelumnya, menurut Hery, dengan asumsi tidak ada kasus kebocoran atau kecurangan UN.
"Kalau tidak ada kebocoran, direncanakan hasil UN dapat kami terima 2 Mei," ujar Hery yang saat ini juga menjabat sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sebelum 2 Mei
Menurutnya, karena ada kasus kebocoran, PTN berharap akan menerima hasil UN berupa informasi analisis kecurangan tingkat individu sebelum 2 Mei.
Pasalnya, hasil analisis kecurangan hingga tingkat individu tersebut kemungkinan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses seleksi siswa masuk PTN.
Sekretaris Umum Panitia SNMPTN-SBMPTN 2015, Werry Darta Taifur, membenarkan para rektor memang meminta penyerahan hasil UN dipercepat, sebelum 2 Mei. Werry yang juga menjabat Rektor Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat ini mengungkapkan, permintaan percepatan hasil analisis kecurangan tersebut telah disampaikan kepada Pusat Penelitian Pendidikan (Puspendik) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud minggu lalu.
"Pada pertemuan minggu lalu, kami ada kesepakatan minta hasil analisis dipercepat lagi kalau memungkinkan," kata Werry, Senin pagi.
Ia mengutarakan, terkait permintaan tersebut, Balitbang Kemendikbud menyatakan pemetaan hasil dan kecurangan peserta UN sampai tingkat individu telah selesai sebagian.
"Menurut Balitbang, tinggal beberapa provinsi lagi yang belum tuntas," kata Werry.
Rektor Universitas Indonesia (UI), Muhammad Anis, menuturkan institusinya belum dapat memastikan apakah akan menggunakan hasil UN sebagai bahan pertimbangan dalam proses seleksi masuk mahasiswanya. Pasalnya, menurutnya, tidak adil apabila proses seleksi menggunakan hasil UN, yang selama ini telah terbukti diwarnai kebocoran dan kecurangan.
Ia menyebutkan, saat ini institusinya juga belum dapat memberikan keputusan pasti, kendati ada informasi bahwa Puspendik Balitbang Kemendikbud akan memberikan hasil dan analisis kecurangan hingga ke tingkat individu peserta UN. Menurut Anis, UI masih akan menunggu untuk melihat lebih dulu, apakah hasil tersebut dapat atau tidak dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam proses seleksi masuk mahasiswa di PTN-nya. (SH/h)