Jakarta (SIB)- Layanan pendidikan bagi anak-anak penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) merupakan persoalan yang harus menjadi pemikiran serius pemerintah. Pasalnya, para siswa dari kalangan penghayat Kepercayaan selama ini "dipaksa" berbohong tentang keyakinan mereka. Ketua Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan YME dari organisasi Sapta Darma, Naen Suryono mengatakan hal ini, Senin (7/9) pagi. "Anak-anak kami terpaksa mengikuti pelajaran keagamaan yang tidak sesuai dengan yang diyakininya. Saya kasihan kepada mereka," kata Naen. Ia mengatakan hal ini menanggapi pernyataan Direktur Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sri Hartini beberapa waktu lalu, bahwa Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan YME masih terdiskriminasi, termasuk dalam hal layanan pendidikan.Naen membenarkan, selama ini para penghayat Kepercayaan kepada Tuhan YME memang merasakan adanya diskriminasi terhadap anak-anak mereka di sekolah. Para siswa penganut Kepercayaan kepada Tuhan YME, umumnya masih "dipaksa" mengikuti pelajaran agama yang bukan menjadi keyakinan mereka. Ia mencontohkan, anak-anak dari penghayat Kepercayaan, yang masih belum memiliki pretensi apa pun, sempat mempertanyakan kepada para orang tua mereka tentang status agama mereka. Anak-anak penghayat Kepercayaan, termasuk yang masih kecil, kata Naen, ada yang mempertanyakan mengapa di sekolah mereka harus berbohong tentang keyakinan mereka. Sejumlah anak yang meraih peringkat satu di sekolah mereka, kata Naen, bahkan sempat mengatakan sebenarnya tidak mau berbohong tentang keyakinan mereka. "Jadi, sekolah akhirnya menjadi institusi yang justru mengawali mengajari anak berbohong, bukan menjadi tempat menumbuhkan pendidikan karakter yang baik," ujar Naen. Ia mengingatkan penyediaan layanan pendidikan bagi anak-anak penghayat Kepercayaan merupakan persoalan yang harus menjadi pemikiran serius pemerintah. Pasalnya, sebagaimana layanan pendidikan agama bagi anak-anak penganut agama tertentu, layanan pendidikan untuk penghayat Kepercayaan juga merupakan hal mendasar bagi anak-anak didik dari kalangan penghayat Kepercayaan kepada Tuhan YME. Menurutnya, apabila siswa dari kalangan penghayat Kepercayaan harus mengikuti layanan pendidikan untuk siswa agama tertentu, hal tersebut bertolak belakang dengan prinsip pendidikan karakter. (SH/q)