Ahli: Tes ‘Baca Hitung’ di Level PAUD Berdampak Negatif Bagi Anak

- Rabu, 25 November 2015 16:03 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/11/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Jakarta (SIB)- Tak jarang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menerapkan penguasaan baca, tulis, hitung (calistung) kepada anak usia dini. Akan tetapi, sistem pengajaran yang tidak tepat serta penggunaan calistung sebagai standar evaluasi anak usia dini memiliki dampak negatif bagi anak.Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Ahmad Suryawan mengatakan calistung tidak boleh dijadikan program evaluasi prestasi pada anak usia dini. Calistung, lanjut Suryawan, hanya boleh diajarkan kepada anak usia dini dalam bentung pengenalan.Suryawan mengatakan pengenalan terhadap calistung juga tidak dapat disamakan dengan pengajaran calistung terhadap anak yang memang sudah siap untuk belajar. Kepada anak usia dini, Suryawan mengatakan calistung bisa diperkenalkan melalui program bermain."Calistung harusnya dikenalkan saja, tidak boleh menjadi program evaluasi prestasi (untuk anak usia dini)," jelas Suryawan saat ditemui di Lotte Shopping Avenue pada Kamis (19/11).Suryawan tak menampik jika pengajaran calistung pada anak usia dini dipengaruhi oleh tuntutan yang cukup besar. Pasalnya, beberapa SD menerapkan syarat masuk dengan tes calistung. Sistem ini, lanjut Suryawan, yang harus segera dibenahi oleh pemerintah, baik dari tingkat pusat hingga daerah.Di samping itu, Suryawan juga mengatakan akan ada satu dampak negatif ketika anak usia dini dipaksa untuk menguasai calistung. Pemaksaan ini, terang Suryawan, akan membuat otak anak tidak bekerja secara runut atau by order.Suryawan mencontohkan, ketika seorang anak usia dini diajarkan 9+5=14, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Salah satunya, anak mungkin sudah siap dan  memang mengerti bagaimana proses menambahkan angka 9 dan 5.Akan tetapi, bisa jadi anak tersebut hanya mengetahui jawaban karena menghafal. Sehingga ketika diberikan soal yang berbeda, anak tersebut tidak bisa mengetahui jawabannya. Hal ini, lanjut Suryawan, yang menunjukkan bahwa otak anak tidak bekerja by order."Karena itu, baca, tulis, hitung, boleh dikenalkan tapi tidak boleh dipakai sebagai syarat untuk evaluasi prestasi di usia itu," tegas Suryawan. (Rol/q)


Tag:

Berita Terkait

Sekolah

Penrad Siagian Ajak Semua Pihak Sikapi SE Wali Kota Medan Dengan Bijaksana Berlandaskan Konstitusi

Sekolah

Kapolres Batubara Terima Kunjungan Kalapas Labuhan Ruku Perkuat Sinergi Pengamanan

Sekolah

Anggota DPRD Labura A Ramadhan Simatupang Jadi Bilal Salat Tarawih di Masjid Al-Huda Desa Tubiran

Sekolah

Terapkan RJ, Kejati Sumut Selesaikan Perkara Penganiayaan Sitorus di Porsea,Toba

Sekolah

Oknum Brimob Penganiaya Siswa SMP Hingga Tewas di Tual Dipecat

Sekolah

Jaksa Dalami Pembelian 4 Lahan Sawit Menantu Eks Sekretaris MA Nurhadi