Curhat

Antara Aku, Yayangku dan Tipu Muslihatmu

* Zul Ithink, Sembahe - Deliserdang
- Minggu, 07 Februari 2016 14:43 WIB
Aku tidak tahu persis kenapa menyukainya. Kata kawanku, Yani biasa aja. Dibilang putih, tidak terlalu bersih. Dibilang cantik, tidak manis. Dibilang pintar, tidak pula juara. Rekanku berkesimpulan, aku kena batunya.Selama ini cuek bebek sama cewek tapi sekarang kok kayak kebo dicucuk hidung. Ke mana aja selalu dengan Yani. Tudingan tersebut memang kenyataannya kok. Aku memang terus dengannya. Siang malam. Kayak kereta bututku dengan minyak. Kwkwkwk.Sohibku sibuk searching dunia maya, aku cuma chat dengan Yani. Orang-orang ngenet fokus dengan PB, aku tak beranjak darinya. Sampai sahabatku bosan sendiri mengajak dan mengenalkanku dengan perempuan lain. Buktinya, ya itu tadi... Tak hanya di sekolahku terus lengket dengannya tapi juga di luar sekolah. Namun, ada saat bertemu ada juga masa berpisah.Kami direnggangkan oleh jarak. Aku melanjut ke Politeknik Negeri Media Kreatif, masih di kota yang sama tapi Yani melanjut ke sekolah elit di Jawa.Perpisahan yang menyakitkan.  Hidupku jadi seperti berhenti. Bumi kurasakan jadi gelap gulita. Yani mengaku demikian juga. Untuk menenangkan hati masing-masing,  kami bersumpah untuk tetap setia.Benar juga. Empat tahun terpisah, kami dipertemukan lagi. Yani kujumpai lebih cantik dari yang dulu. Menurutnya, kegantenganku pun melebih yang dulu.Empat tahun tak memupuskan cinta kami. Begitu bersua, semua yang terputus menyambung lagi. Dengan gampangnya kami menabung kasmaran. Yang kurang dari Yani sekarang, ia suka molor.Janji jam tujuh, datang jam sembilan. Bahkan bisa sama sekali tak hadir. Ditelpon, smartphone mahalnya tak aktif. Dichat, tak ditanggapi. Saat bertemu keesokan harinya, Yani ngaku ketiduran. Aku mau marah, tapi tak bisa karena menerima alasannya. Soalnya Yani sekarang sudah masuk jajaran orang hebat di kantornya. Pasti pekerjaannya bejibun, yang memeras otak dan tenaga. Wajarlah capek.Terus terang, aku kebagian juga kok. Hanya saja, kebiasaan buruknya jadi menjadi-jadi. Alasannya, tetap sama. Geram demikian, aku membuntut ke kantornya. Padahal, Yani sudah mewanti-wanti agar jangan sampai aku menemui di tempat pengabdiannya.Alasannya, masih masa training. Semua yang diucapkan keterima di pikiranku tapi ya, Tuhan... siapa sih yang mau dikacangin terus. Itulah sebabnya malam ini aku melanggar peraturannya.Benar juga. Yani pulang bersama kawan sekantor tapi tidak langsung ke kostnya. Mereka ke kafe.Panas hatiku. Aku masuk juga. Dipikirnya aku tak sanggup membayar sendiri. Berapalah red wine? Gak sampe sebulan gajiku kok. Tetapi, aku tak menemuinya di dalam. Lebih bencinya, HP Yani off lagi. Pikiranku jadi negatif padanya.Sampai dini hari aku menunggu di luar, tak juga Yani menampakkan batang hidungnya. Emang yayangku itu tak punya batang hidung. Soalnya pesek. Capek menanti bidadariku, aku pulang. Esoknya, Yani menghubungiku. Tak kuangkat. Biar tahu rasa dia. Aku hanya mengirim fotonya saat masuk ke kafe bersama kawan-kawannya itu.Entah hantu mana yang menggerakkannya. Tiba-tiba Yani hadir di kantorku utuk menemuiku. Aku tak marah. Cuma bilang, alibi dan tipu muslihatnya saat ini tidak seperti Yani yang dulu. Waktu itu, saat masih di SMK Grafika, aku suka karena kepolosan dan apa adanya.Bye! (r)


Tag:

Berita Terkait

Sinar Remaja

Eksekusi Lahan KTPHS di Aekkuo Berjalan Humanis Usai Tertunda 10 Tahun

Sinar Remaja

Pasca Jadi Tersangka, Kadis Koperasi dan UKM Sumut Jarang Masuk Kantor

Sinar Remaja

Kasum TNI Tinjau Rehabilitasi Sekolah dan Jembatan Pascabencana di Tapteng

Sinar Remaja

Sekda Samosir Sudah Tiga Kali Diperiksa Kejari Terkait Kasus Dugaan Korupsi Bansos

Sinar Remaja

Tingkatkan Profesionalisme Personel, Polres Tanjungbalai Gelar Pelatihan Fungsi Teknis Lantas

Sinar Remaja

Wabup Tapteng Dampingi Kasum TNI Tinjau Penanganan Pemulihan Bencana di Tukka