Tapsel
(harianSIB.com)Perempuan dengan kodrat menjadi seorang istri, dinafkahi, hingga melahirkan anak-anaknya kerap dianggap harus bersifat menurut dan menyerah.
Hingga pada tahun 1908, Kartini mulai memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia, membebaskan wanita dari keterbatasan dan kesetaraan dengan laki-laki di berbagai bidang, seperti pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sosial.
Perempuan pun kini telah menembus batas dan mematenkan diri dengan mengenyam ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi setara dengan kaum adam.
Dewi Hafsah Siregar, (29), perempuan dalam tim Emergency Rescue Team (ERT) PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, meneladani sosok kartini dalam dirinya.
Dia bercerita, awalnya tak mudah untuk menembus dunia pertambangan. Sejumlah seleksi harus dilewatinya seperti tes tertulis, wawancara, tes fisik dan medical check-up hingga akhirnya dinyatakan lolos.
Selama tiga bulan pelatihan, sama seperti karyawan laki-laki lainnya, ia digembleng dengan fisik keras: lari hingga jarak 5 kilometer, sit-up, pull-up, hingga latihan evakuasi di ketinggian demi memenuhi standarisasi sebagai seorang rescue.
"Porsinya 60 persen fisik, sisanya keterampilan teknis. Awalnya berat, apalagi alat-alat rescue itu besar dan berat. Tapi saya belajar dan akhirnya bisa," ucapnya.