Model Lokal Protes Tak Diberdayakan

Busana Indonesia di Pekan Mode Jepang

- Minggu, 22 Maret 2015 20:48 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/03/hariansib_Busana-Indonesia-di-Pekan-Mode-Jepang.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Tokyo (SIB)- Japan Fashion Week (JFW) 2015 bertabur karya kelas dunia. Dari Indonesia juga ada diwakili Toton dan ETU. Melalui keduanya menunjukkan bahwa kekuatan mode Nusantara tidak sekadar jago kandang. Keduanya memamerkan koleksi mereka di Japan Fashion Week. Terlepas dari kemeriahan kegiatan, model lokal protes  karena merasa tak diberdayakan.Pada pekan mode Tokyo— salah satu pesta mode akbar yang jadwalnya selalu dinanti fashionista dari seluruh Asia—dari ratusan model yang berpartisipasi, hanya beberapa yang merupakan model lokal. Lainnya didominasi model kulit putih. “Terlihat aneh,” kata Rika Tatsuno, 24, salah satu model Jepang yang tampil di ajang tersebut.Dalam JFW, Toton menghadirkan koleksi bergaya minimalis yang terinspirasi Kimono Jepang, sementara ETU menampilkan koleksi busana muslim bernafas androgyny dalam balutan warna pastel. Keduanya mempertunjukkan koleksi di catwalk Tokyo pada Selasa, 17 Maret 2015, lalu.Toton dan ETU berhasil menarik perhatian para fashionista dan jurnalis dari berbagai penjuru dunia. Karya mereka bahkan dimuat di akun Instagram Vogue Italia.Adapun, keduanya sukses mengembangkan sayap hingga ke Negeri Sakura berkat bantuan Indonesia Fashion Forward (IFF), inisiatif nirlaba yang berfokus pada pengembangan kapasitas label mode Indonesia agar siap bersaing di pasar internasional.Para desainer dibimbing para pakar mode kelas dunia guna mempertajam kreativitas, mengidentifikasi problem dan solusi yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis, serta memahami strategi branding, analisis penjualan, strategi kemitraan, serta jurus menembus pasar global.Program IFF merupakan hasil kolaborasi Jakarta Fashion Week, Kementerian Pariwisata, British Council dan inkubator bisnis asal London, Center for Fashion Enterprise (CFE).Tentang kekecewaan model lokal,  seperti disiarkan ViVa.Co.Id dan Yahoo News, Rika menyebutkan model Jepang dan yang berasal dari Asia secara umum hanyalah sekitar 10-15 persen. “Akan lebih baik bila terdapat lebih banyak model Jepang di catwalk Tokyo,” tambah Rika.Adapun di Jepang, mode terbagi dua, wakufu atau pakaian tradisional Jepang dan yokufu atau busana bergaya barat, yang sekarang ini jadi pakaian sehari-hari di Negeri Sakura.Umumnya, model Jepang akan banyak dikontrak untuk mempromosikan koleksi wakufu. Sementara busana yokufu, lebih banyak dipromosikan oleh model berwajah kaukasia.Namun beberapa tahun belakangan, tren itu mulai bergeser, semakin banyak desainer busana tradisional Jepang, atau kimono, menggunakan model kaukasia untuk mempromosikan koleksinya. Alasannya, guna mendekatkan kimono pada pasar yang lebih global. “Pembeli akan lebih tertarik melihat kimono yang dikenalkan model kaukasia, karena konsumen bisa melihat tampilan totalnya seperti apa,” jelas Hiroki Uemura, salah satu desainer kimono.Dominasi Model UkrainaLayaknya di negara-negara Asia lainnya, catwalk mode didominasi model asal Ukraina, tidak terkecuali Jepang. Salah satu model yang kerap dikontrak desainer Jepang adalah Kali Myronenko, 20.Pertama kali menjajal catwalk Tokyo pada 2012 di usia 17 tahun, kini Myronenko menjadi model top di pekan mode. “Bagi warga Jepang, wajah kaukasia dianggap imut seperti boneka. Citra itu yang ingin mereka tampilkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan lensa kontak berwarna biru,” papar Myronenko.Bahkan, majalah mode Jepang pun hanya sedikit menampilkan model lokal. Kebanyakan fashion spread juga memperlihatkan wajah Kaukasia, dibanding Asia. Imbasnya, agensi modeling kebanyakan mencari model berwajah Eropa atau mendatangkan model dari Rusia dan Ukraina.Ironisnya, model Jepang yang ingin merintis karier, harus melakukannya di luar negeri, seperti New York, Paris, Milan atau London. “Di Jepang, model kaukasia mendominasi, jadi kami harus mencari celah pekerjaan di luar negeri,” papar Rika. (t/r9/d)


Tag:

Berita Terkait

Sinar Wanita

Pasokan BBM Pertalite di Ibu Kota Simalungun Langka

Sinar Wanita

Wakil Ketua DPRD SU Serukan Masyarakat Luas Tidak Panik Sikapi Isu Kelangkaan BBM

Sinar Wanita

OSS St Petrus Sidikalang IV Tahun 2026 Diikuti 808 Peserta

Sinar Wanita

Pasokan BBM Pertalite di Ibu Kota Simalungun Langka

Sinar Wanita

Dari Istana ke Rumah Teman, Fergie Dikabarkan Kehilangan Tempat Tinggal

Sinar Wanita

Dirut Tirtanadi Dampingi Gubsu Safari Ramadan ke Palas dan Paluta