World Economic Forum (WEF) meramalkan bakal ada 5 juta pekerjaan yang hilang sebelum tahun 2020. Ini merupakan dampak dari maraknya kecerdasan buatan dan faktor sosial ekonomi. Sebab kecerdasan buatan atau digital sudah nyata dan bukan mimpi lagi. Tak satupun yang bisa mengelak, mau tak mau, siap tak siap, harus menerimanya.Ada pergeseran 10 keterampilan yang paling dibutuhkan di tahun 2020 dibandingkan tahun 2015, menurut WEF. Tahun 2020, keterampilan di bidang pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, dan kreatif adalah yang paling dibutuhkan. Disusul manajemen sumber daya manusia dan koordinasi dengan orang lain. Disebutkan ada 16 keterampilan yang dibutuhkan di abad 21 dibagi dalam tiga kelompok yaitu literasi dasar, kompetensi, dan kualitas karakter. Literasi dasar berkaitan dengan kemampuan mengaplikasikan keterampilan ini pada kegiatan keseharian. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan tantangan kompleks. Sementara kualitas karakter berkaitan dengan kemampuan menyikapi perubahan lingkungannya.Situs www.willrobotstakemyjob.com membuat simulasi tentang prediksi pekerjaan/profesi apa yang akan digantikan robot dan seberapa besar ancamannya. Profesi sebagai auditor misalnya, diprediksi 94 persen akan diotomasi. Hal serupa terjadi pada sopir taksi yang terancam eksistensinya sebesar 89 persen. Kemudian juga profesi analis kredit dan kasir yang 98 persen dan 97 persen kemungkinan akan diotomasi.Michael Osborne, profesor dari University of Oxford, memprediksi bahwa 47 persen dari 702 jenis pekerjaan di Amerika Serikat di tingkat bawah akan diambilalih komputer dua dekade ke depan. Sedangkan di Indonesia, menurut laporan ILO (Organisasi Buruh Internasional), pekerja yang paling berpotensi tergusur adalah pramuniaga sebanyak 14 juta orang, bagian administrasi 1,7 juta orang, buruh bangunan 2,1 juta orang dan penjahit pakaian 1,1 juta orang. Mereka akan digantikan mesin atau robot.Pemerintah Singapura sudah mulai mendorong penggunaan robot untuk pekerjaan ringan, seperti room service atau office boy. Tapi di sisi lain, masyarakat di sana kian didorong untuk terus meningkatkan kemampuan diri sehingga bisa bekerja di industri yang lebih kompleks. Sejarah membuktikan, ketika mobil menggeser kereta kuda, pekerjaan kusir memang hilang, tapi profesi sopir kemudian lahir. Jadi, ketika beberapa jenis pekerjaan hilang karena mesin degan alasan efisiensi, bukan tidak mungkin akan lahir berbagai jenis profesi baru. Lalu, kebutuhan mendasar manusia adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Maka bisnis atau profesi yang terkait hal tersebut tetap abadi tidak tergerus zaman. Manusia tetap memerlukan pakaian, makanan dan rumah dalam berbagai bentuk.Sejak 31 Oktober 2017 lalu, pembayaran tol di seluruh Indonesia sudah mulai digantikan dengan uang elektronik. Meski disebut Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) memastikan tidak ada pemutusan hubungan kerja, namun fakta tak ada lagi yang menjaga di pintu tol. Pekerjaan itu telah 'musnah', dan mereka yang bekerja di sana, hanya dialihkan ke bagian lain.Jadi, kita harus bersiap dengan berbagai perubahan akibat perkembangan kecerdasan. Bisa saja pekerjaan yang sekarang ditekuni akan digantikan mesin atau robot. Indonesia mesti mengantisipasinya dengan memperlengkapi generasi muda agar melek IT. Jika tidak bangsa ini hanya akan menjadi penonton di era digital. (**)