Akhir-akhir ini pemberitaan tentang tanda-tanda mulai membaiknya perkembangan kasus pandemi Covid-19 mulai ramai. Dari rencana produksi vaksin hingga angka kesembuhan lebih tinggi dari tambahan kasus positif di Indonesia.
Kabar gembira ini sangat cepat ditangkap masyarakat yang selama ini sudah jenuh dengan keadaan. Sulitnya kondisi ekonomi membuat banyak masyarakat yang nekad, sehingga tak peduli dengan keberadaan virus, apalagi melaksanakan protokol kesehatan.
Demikian juga dengan kelompok muda yang selama ini merasa terkungkung berbagai pembatasan. Jiwa mudanya seolah terenggut karena tak lagi bebas kongkow di cafe dan tempat hiburan malam lainnya.
Belum lagi dengan banyaknya seliweran berita hoaks tentang virus, membuat masyarakat seolah sudah lepas dari bahaya yang terus mengancam. Mereka sudah melakukan kegiatan normal kembali, tidak peduli dengan adaptasi kebiasaan baru (AKB).
Kondisi ini tentunya sangat membahayakan. Karena hingga saat ini belum ada yang berani menjamin kalau virus segera berlalu. Bahkan WHO cuma bisa berharap pandemi tidak berlangsung lebih dari dua tahun. Bila dihitung, pandemi baru berlangsung sekira 6 bulan di Indonesia. Artinya, masih akan panjang lagi masa "penderitaan" masyarakat.
Bahkan kemarin dilaporkan, 4 negara di Asia Tenggara terjadi mutasi virus corona baru yang lebih menular dari yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China. Yakni, Malaysia, Filipina, Singapura, dan terbaru Myanmar.
Nama virus corona yang bermutasi dan sangat menular itu: D614G. Juga disebut mutasi "G", D614G adalah variasi dari galur asli virus corona yang pertama kali terdeteksi di Wuhan pada Desember tahun lalu. "Karena varian ini telah beredar secara global, maka bisa ada di negara mana pun," kata Dr Sebastian Maurer-Stroh, Wakil Direktur Eksekutif Penelitian Agency for Science, Technology, and Research (A*STAR) Singapura.
Setiap negara dengan pengawasan aktif telah mendeteksinya, terutama terkait dengan kasus impor dari pelancong.
Mutasi virus corona baru yang 10 kali lebih menular terdeteksi di Malaysia. Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah mengatakan, masyarakat harus lebih berhati-hati, setelah mutasi D614G terdeteksi.
"Ditemukan (virus corona) 10 kali lebih mudah untuk menginfeksi orang lain dan lebih mudah menyebar, jika disebarkan oleh individu penyebar super," kata Noor Hisham dalam sebuah pernyataan di halaman Facebook-nya, Minggu (16/8), seperti dikutip Channel News Asia.
Mutasi tersebut terdeteksi oleh Malaysian Institute for Medical Research, sebagai hasil dari uji isolasi dan kultur pada tiga kasus dari kluster Sivagangga dan satu kasus dari kluster Ulu Tiram.
Sebelumnya tim peneliti dari Universitas Zhejiang, China, menemukan fakta baru Covid-19 telah bermutasi menjadi 30 jenis strain yang berbeda.
Mengutip laman dailymail.co.uk, berkas penelitian menunjukkan terdapat 10 jenis virus baru varian Covid-19. Di antaranya terdapat sejumlah varian yang mematikan.
Menurut laporan South China Morning Post, sejumlah jenis strain yang ada di China termasuk paling berbahaya.
Gambaran ini menunjukkan fakta, bukan mengada-ada, apalagi menakut-nakuti. Bahaya tetap mengintai kita. Sehingga seharusnya pemerintah dan masyarakat lebih waspada dengan menerapkan secara disiplin protokol kesehatan. Tidak menganggap enteng dengan persoalan pandemi ini yang bisa saja menjadi masalah berkepanjangan, dan bisa membangkrutkan bangsa bahkan dunia secara global.
Selain masyarakat, kunci pemutusan mata rantai virus ada di pemerintah. Terapkan peraturan secara benar dan ketat sesuai yang tertera di dalamnya. Bukan sekadar peraturan yang dibuat seolah untuk menunjukkan kalau sudah bekerja saja. Lakukanlah dengan hati yang tulus dan ikhlas untuk menyelamatkan kehidupan manusia. (***)