TAJUK RENCANA

Masih Ada Harapan Tidak Resesi

Redaksi - Kamis, 27 Agustus 2020 10:34 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/08/_3714_Masih-Ada-Harapan-Tidak-Resesi.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
katadata
Ilustrasi

Indonesia sejengkal lagi masuk ke jurang resesi. Masalah ini menjadi perbincangan hangat di mana-mana. Baik di media massa lewat paparan pengamat ekonomi hingga masyarakat awam di pasar, kedai kopi hingga cafe. Semua ini gegara pandemi Covid-19 yang sudah lebih setengah tahun melanda dunia.

Banyak negara sudah masuk jurang resesi. Mulai dari negara maju hingga berkembang. Paling dekat negara tetangga seperti Singapura, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Perekonomian Indonesia pun diprediksi akan menyusul negara tetangga tersebut.

Sebab ada tiga tanda yang menyatakan sejengkal lagi Indonesia masuk jurang resesi. Pertama, ekonomi kuartal III-2020 diprediksi tumbuh minus. Kedua, pemutusan hubungan kerja di mana-mana. Ketiga, ekonomi Indonesia diprediksi minus 1,1% di 2020.

Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani optimistis perekonomian Indonesia bisa lebih baik lagi di kuartal III-2020. Sebab, pemerintah sudah mengalokasikan anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp 695,2 triliun.

"Kalau kita bicara tentang Covid, kita bicara tentang ekonomi mengalami kontraksi itu aspek ekonominya. Kuartal I turun dari yang biasanya 5% jadi 2,97%, kuartal II bahkan kontraksi ke 5,3%. Di negara lain kontraksinya bisa dalam sekali di atas belasan bahkan puluhan persen," kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara kunci di acara Kongres 2 AMSI secara virtual, Sabtu (22/8/2020).

Dari gambaran ini berarti masih ada harapan bagi bangsa ini untuk tidak masuk jurang resesi. Lalu sebagai masyarakat awam apa yang bisa dilakukan untuk membantu menyelamatkan perekonomian?

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengatakan, masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan selama pandemi harus berhemat untuk menyiapkan dana darurat, paling tidak untuk 3 bulan selama resesi.

Masyarakat juga harus mengencangkan ikat pinggang untuk pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, misalnya ke tempat wisata, restoran dan sebagainya. Terutama bagi masyarakat yang beberapa bulan ini mengalami penurunan pendapatan. Tapi bagi masyarakat yang tidak terpengaruh, diharapkan konsumsi kebutuhannya biasa saja. Hal yang terpenting tidak panik dengan memborong berbagai kebutuhan, apalagi menimbunnya.

Hal yang sama juga dikatakan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal. Meskipun diminta tidak panik dalam menghadapi resesi, masyarakat diminta untuk belanja sewajarnya dan tidak terlalu boros.

Masyarakat harus bersiap-siap dari sisi keuangan dan tidak boleh terlalu panik. Karena ini malah mendorong resesi lebih cepat seperti 1998. Salah satu yang menyebabkan krisis saat itu lebih parah karena kepanikan masyarakat sehingga memborong barang-barang di toko-toko, mal, lalu mengambil uangnya di bank dalam waktu serentak.

Selain mempersiapkan tabungan yang cukup, masyarakat diminta meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan agar pandemi ini cepat pulih. Sebab resesi terjadi disebabkan oleh virus mematikan corona.

Masyarakat bisa berkontribusi untuk menahan tekanan ekonomi yang lebih jauh yaitu dengan meningkatkan kedisiplinan, kesadaran, menaati aturan-aturan dan SOP kesehatan dengan pakai masker, social distancing, menggunakan hand sanitizer, cuci tangan dan sebagainya. Karena sumber dari resesi ini adalah wabah. Kalau wabahnya masih terus naik maka kita akan terus dapat tekanan ekonomi.

Pengalaman masa lalu bisa menjadi acuan agar kita tidak terperosok ke jurang resesi. Sebagai masyarakat, berilah kontribusi untuk mencegahnya dengan tidak panik dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Ibarat dalam sebuah pertandingan, kepanikan akan membuang setengah dari seluruh energi seorang atlet. Karenanya, yang menentukan kalah atau menang itu sebagian besar ada pada diri kita sendiri.(***)


Tag:

Berita Terkait

Tajuk Rencana

Minat Masyarakat Membeli Emas Meningkat, Sistem Pre-Order Marak di Medan

Tajuk Rencana

Sri Mulyani: Kepercayaan Dunia pada Dolar AS Tidak Lagi Utuh

Tajuk Rencana

Harga Minyak Merosot 4 Persen akibat Ketegangan Dagang AS-China

Tajuk Rencana

Ini Tips Tidak Jatuh Miskin Saat Resesi

Tajuk Rencana

Terguncang 3 Badai Sekaligus, Harga Minyak Anjlok 14% ke US$ 66

Tajuk Rencana

Gawat ! Dunia Terancam Resesi ini Pemicunya