Ilmuwan Buat Peta Digital Kuburan Plankton

- Kamis, 27 Agustus 2015 14:14 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/08/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Sebuah peta digital terbaru menunjukkan komposisi dasar laut di lepas pantai selatan Australia ternyata dipenuhi sisa jasad plankton. Kuburan organisme renik itu mirip dengan yang terdapat di beberapa wilayah lain di bagian laut dalam lainnya. Pertama kali dipublikasikan dalam jurnal Geology, 9 Agustus 2015, peta digital interaktif itu kini tersedia dalam jaringan Internet.Ini adalah peta digital pertama dalam 40 tahun terakhir yang menggambarkan komposisi lantai lautan global, meliputi 70 persen permukaan bumi, dengan detail. Peta itu dibuat para peneliti School of Geosciences dari University of Sydney. Adapun versi terakhir peta dasar lautan dibuat pada era 1970-an dan masih digambar dengan tangan.Menurut peneliti sedimen dari University of Sydney, Adriana Dutkiewicz, peta lama menunjukkan sebagian besar dasar Samudra Antartika di sekitar Australia tertutup tanah liat yang datang dari daratan. “Adapun peta kami menunjukkan area itu sebenarnya berisi sisa-sisa mikrofosil yang kompleks,” kata Dutkiewicz seperti ditulis Livescience, pekan lalu.Kumpulan mikrofosil itu adalah diatom—tipe fitoplankton yang menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen. “Kehidupan di samudra itu lebih kaya dari yang diprediksi sebelumnya,” kata Dutkiewicz. Organisme itu memproduksi sekitar seperempat dari total oksigen di bumi yang penting untuk kehidupan manusia. Sekitar 21 persen dari komposisi atmosfer bumi adalah oksigen.Meneliti distribusi jasad diatom, kata Dutkiewicz, sangat penting untuk mengetahui bagaimana lautan bereaksi terhadap perubahan iklim di masa lampau. Data untuk menyusun peta dibuat berdasarkan 15 ribu sampel yang diambil selama perjalanan riset selama lebih dari 50 tahun. Penghitungan algoritma kemudian mengubah hasil observasi menjadi peta yang berkelanjutan.Pewarnaan dalam peta digital mempermudah memahami komposisi dasar lautan. Warna hijau, misalnya, menggambarkan campuran diatom dan lumpur. Biru adalah petunjuk komposisi lumpur dan kalsium karbonat yang berasal dari hewan bercangkang. Sementara warna merah menggambarkan campuran debu vulkanis dan kerikil.Uniknya, peta digital itu menunjukkan massa diatom mati di dasar Samudra Antartika tidak berasal dari tempat yang sama ketika mereka dulu bermunculan di permukaan laut. “Perbedaan ini menunjukkan bahwa kita memahami sumber karbon, tapi tidak demikian dengan proses tenggelamnya,” kata Dietmar Mueller, peneliti geofisika dari University of Sydney, seperti dikutip laman Eurekalert. (Tempo.co/k)


Tag:

Berita Terkait

Teknologi

PT Sumo Tolak Tudingan Pihaknya Menyebabkan Kebocoran PAD Medan dari Sektor Reklame

Teknologi

Cadenazzi Borong Dua Gol, PSMS Hajar Sumsel United

Teknologi

Sapa Warga di Bantaran Sungai Babura, Rico Waas Tegaskan Komitmen Respons Cepat dan Tepat Sasaran

Teknologi

Pemko Medan Luncurkan PKH Adil Makmur Bantu Warga Kurang Mampu

Teknologi

Jamintel Kejagung Paparkan Pengawasan DD, Ini Respon Bupati Labura

Teknologi

Tujuh Rumuh di Desa Kutabangun Karo, Diterjang Angin Puting Beliung