Ini Kategori Terbaru Orang Miskin di Indonesia, Pengeluaran Kurang dari Rp595.242 per Bulan

Robert Banjarnahor - Kamis, 16 Januari 2025 10:30 WIB
Foto: Pradita Utama/detikcom
Potret permukiman kumuh di DKI

Jakarta (harianSIB.com)Angka garis kemiskinan di Indonesia mengalami kenaikan, menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2024. Nilai garis kemiskinan (GK) yang tercatat kini sebesar Rp 595.242 per kapita per bulan, naik 2,11% dibandingkan dengan catatan BPS pada Maret 2024 yang tercatat Rp 582.932 per kapita per bulan.

BPS mendefinisikan garis kemiskinan sebagai batas pengeluaran minimum yang mencakup kebutuhan makanan dan non-makanan untuk memenuhi standar hidup yang tidak dikategorikan miskin. Oleh karena itu, penduduk dengan pengeluaran rata-rata per kapita per bulan di bawah GK tersebut akan digolongkan sebagai penduduk miskin.

"Nilai garis kemiskinan September 2024 ini akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan status kemiskinan penduduk," ujar Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, pada Rabu (15/1/2025), dikutip dari CNBC Indonesia.

GK di perkotaan pada September 2024 senilai Rp 615.763 atau naik dibanding catatan per Maret 2024 yang sebesar Rp 601.871. Sedangkan GK di perdesaan ialah senilai Rp 566.655 dari sebelumnya pada 2023 sebesar Rp 556.874.

Komponen GK ini terdiri dari garis kemiskinan makanan atau GKM dan garis kemiskinan bukan makanan atau GKBM. GKM pada September 2024 sebesar Rp 443.433 sedangkan GKBM Rp 151.809. Masing-masing juga naik dari catatan Maret 2024 sebesar Rp 433.906 dan Rp 149.026.

"Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan lebih besar dari non makanan dan pada September 2024 peranan komoditas makanan mencapai 74,5% sementara non makanan 25,5% terhadap garis kemiskinan," ucap Amalia.

Komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan masih berupa beras dengan sumbangan terbesar, yakni 21,01 % di perkotaan dan 24,93% di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (10,67% di perkotaan dan 9,76% di perdesaan).

Komoditas lainnya adalah daging ayam ras (4,61% di perkotaan dan 3,48% di perdesaan), telur ayam ras (4,44% di perkotaan dan 3,62% di perdesaan), mie instan (2,36% di perkotaan dan 1,97% di perdesaan), serta gula pasir (1,72% di perkotaan dan 2,36% di perdesaan).

Komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar, baik pada GK perkotaan dan perdesaan, adalah perumahan (8,41% di perkotaan dan 8,47% di perdesaan), bensin (4,24% di perkotaan dan 4,09% di perdesaan), dan listrik (2,99% di perkotaan dan 1,86% di perdesaan).

Urutan selanjutnya adalah sumbangan dari pendidikan (1,81% di perkotaan dan 1,14% di perdesaan; perlengkapan mandi (1,18% di perkotaan dan 1,05% di perdesaan); perawatan kulit, muka, kuku, dan rambut (0,68% di perkotaan dan 0,69% di perdesaan); serta kesehatan (0,66% di perkotaan dan 0,65% di perdesaan).(*)

Editor
: Robert Banjarnahor

Tag:

Berita Terkait

Gaya Hidup

PSMS Menangi Derby Sumatera Lawan Persiraja di Banda Aceh

Gaya Hidup

Pesawat ATR 400 Hilang Kontak Dekat Leang-leang Maros

Gaya Hidup

PSMS Bawa 23 Pemain ke Aceh, Target Curi Poin dari Persiraja

Gaya Hidup

Medan Falcons Tumbang Tiga Set, Bandung BJB Tandamata Terlalu Tangguh

Gaya Hidup

BPS Percepat Pendataan Pascabencana, 60 Mahasiswa STIS Diterjunkan ke Sibolga dan Taput

Gaya Hidup

Bareskrim Ungkap Gagal Bayar PT DSI Capai Rp2,4 Triliun, Kasus Resmi Naik ke Penyidikan