Jakarta (harianSIB.com)Sejarah perjuangan
Tuan Rondahaim Saragih dalam melawan
penjajahan di
Simalungun kembali diangkat ke publik melalui diskusi dan
bedah buku bertajuk "Rondahaim: Sebuah Kisah Kepahlawanan Menentang Penjajahan di
Simalungun", yang digelar
PARA Syndicate dengan
Nation and Character Building Indonesia (NCBI) di Kantor
PARA Syndicate, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dalam siaran pers yang diterima Jurnalis SIB News Network, Senin (28/10/2024), disebutkan, diskusi bertema "Tuan Rondahaim Saragih, Pahlawan Nasional dari Simalungun" tersebut, mengemuka dengan seruan kuat agar Rondahaim Saragih dianugerahi gelar pahlawan nasional, menyoroti perannya sebagai tokoh yang tangguh melawan kolonialisme.
Sejumlah tokoh berpengaruh hadir sebagai narasumber, termasuk sejarawan senior Asvi Warman Adam (Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNHAN) Herlina JR Saragih (penulis sejarah) dan Pdt Martin Lukito Sinaga serta dipandu oleh Juliaman Saragih, Koordinator Komunitas Masyarakat Simalungun sekaligus Direktur Eksekutif NCBI.
Ketua PARA Syndicate, Ari Nurcahyo, membuka acara dengan penuh antusias, dilanjutkan sambutan dari tokoh Simalungun, Bungaran Saragih (mantan Menteri Pertanian 2000–2004) dan Jopinus Ramli Saragih (Bupati Simalungun 2010–2021). Diskusi ini kemudian ditutup oleh Sarmedi Purba, Ketua Umum DPP Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (PACS) sekaligus Ketua Partuha Maujana Simalungun (PMS).
Herlina JR Saragih memaparkan, pengusulan Rondahaim sebagai pahlawan nasional adalah bagian dari pelestarian sejarah dan pengakuan nasional atas kontribusinya.
"Rondahaim adalah tokoh dengan keahlian strategi perang gerilya yang luar biasa. Dia dijuluki 'Napoleon Batak' oleh banyak pihak, termasuk di forum internasional," ujar Herlina.
Ia menambahkan, Rondahaim tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat lokal Simalungun, tetapi juga mendapatkan pengakuan luas atas strateginya dalam melawan Belanda.
Pdt Martin Lukito Sinaga menguraikan bagaimana Rondahaim pada awalnya berfokus pada perjuangan untuk Simalungun, namun seiring waktu berubah menjadi perjuangan untuk Indonesia.
"Dari hanya mempertahankan wilayahnya, Rondahaim mulai melibatkan dukungan militer dari berbagai wilayah, mulai dari Aceh hingga Semenanjung Malaya," jelas dia.
Selain melawan kekuatan militer Belanda, Rondahaim juga memperjuangkan pengambilalihan sumber daya alam yang dikuasai penjajah, menyadari pentingnya kemandirian ekonomi untuk mewujudkan kemerdekaan.
Sejarawan Asvi Warman Adam menjelaskan, proses pengusulan gelar pahlawan nasional selalu terikat pada syarat-syarat tertentu. Namun, menurutnya, faktor politik seringkali mempengaruhi hasil akhir dari usulan tersebut.
"Pengangkatan gelar pahlawan nasional umumnya cenderung dilakukan menjelang momen-momen politik tertentu, seperti pemilihan umum. Hal ini sering kali berkaitan dengan upaya pemerintah dalam mendapatkan dukungan dari masyarakat," ujarnya.
Asvi juga menyebut, Rondahaim memiliki posisi istimewa dalam sejarah perlawanan kolonialisme. Berdasarkan arsip-arsip sejarah yang berbahasa Belanda, Indonesia, dan catatan lisan masyarakat Simalungun, Rondahaim terbukti sebagai tokoh yang berperan signifikan dalam perlawanan terhadap penjajah.
"Ia tidak pernah kalah dalam pertempuran, yang membuktikan kecakapannya dalam strategi perang," imbuhnya.
Dalam penutupannya, Sarmedi Purba menyampaikan harapan besar agar pemerintah memberikan pengakuan atas perjuangan Tuan Rondahaim Saragih melalui gelar pahlawan nasional.
"Strategi gerilya yang diperkenalkan oleh Rondahaim telah menginspirasi perjuangan kemerdekaan tahun 1945. Gelar pahlawan nasional bukan hanya tentang penghargaan, tetapi juga apresiasi atas pengorbanan dan dedikasi seorang tokoh dalam memerdekakan bangsa," pungkas Sarmedi.(*)