Jakarta
(harianSIB.com)Analis Doo Financial Futures
Lukman Leong mengatakan,
emas masih menjadi pilihan utama
investor sebagai
aset safe haven, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan
kebijakan moneter global, meskipun sempat mengalami koreksi harga.
"Koreksi harga lebih bersifat profit taking, yang justru membuka peluang bagi investor untuk kembali masuk. Ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan kontroversial Trump, termasuk kebijakan tarif, akan terus mendukung emas sebagai aset safe haven," ujar Lukman di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Senin (24/3/2025).
Meskipun dampak dari ketegangan geopolitik dapat berkurang, permintaan emas tetap kuat, terutama dari bank sentral dunia seperti China, yang terus mendiversifikasi cadangan dolar AS mereka ke emas, jelas Lukman.
Pada perdagangan terakhir, harga emas spot sempat melemah ke level sekitar 3.022 dolar AS per ons, dipengaruhi oleh aksi profit taking. Selain itu, dolar AS mengalami sedikit rebound setelah pernyataan hawkish dari pejabat The Fed yang menyatakan belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga.
Federal Reserve atau The Feid pekan lalu mempertahankan suku bunga acuan, namun memberi sinyal kemungkinan dua kali penurunan suku bunga tahun ini. Langkah ini berpotensi memperkuat sentimen bullish terhadap emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Di sisi lain, dinamika geopolitik global tetap menjadi katalis penting. Serangan terbaru Israel ke wilayah Gaza kembali memanaskan ketegangan di Timur Tengah.
Sementara itu, pasar juga tengah mencermati kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan memberlakukan tarif timbal balik baru pada 2 April 2025, yang berpotensi memicu ketegangan dagang lanjutan dan mendongkrak permintaan aset lindung nilai seperti emas.
Dengan harga emas berada di kisaran 3.022-3.025 dolar AS per ons, investor dapat mempertimbangkan pembelian bertahap untuk emas spot.
Untuk emas berjangka, area masuk potensial berada di level 3.025-3.030 dolar AS per ons. Alokasi modal yang disarankan adalah sekitar 5-10 persen dari total portofolio, guna menjaga keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil.(*)