Jakarta (harianSIB.com)
Ribuan barista Starbucks di Amerika Serikat kembali menggelar aksi mogok besar-besaran. Serikat pekerja Workers United menyebut aksi ini meluas ke puluhan kota dan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Starbucks.
Workers United melaporkan bahwa mogok berlangsung di 95 gerai di 65 kota, melibatkan sekitar 2.000 barista. Aksi juga dilakukan di pusat distribusi Starbucks di York, Pennsylvania. Sejumlah gerai disebut terpaksa tutup akibat kekurangan staf, meski Starbucks menegaskan gangguan hanya terjadi di kurang dari 1 persen lokasi.
Mogok ini dipicu tuntutan pekerja terkait penyelesaian kontrak, peningkatan jam kerja, kenaikan upah, serta ratusan tuduhan praktik ketenagakerjaan tidak adil. Para barista menilai kondisi kerja belum memadai dan meminta stabilitas jam kerja serta kompensasi yang lebih layak.
Gerakan serikat pekerja di Starbucks telah mewakili lebih dari 11.000 pekerja di lebih dari 550 gerai sejak terbentuk pada 2021. Namun, hubungan serikat dan perusahaan masih tegang setelah perundingan gagal tahun lalu. Mediasi yang dilakukan awal 2025 juga belum membuahkan hasil.
Baca Juga: Timbul Raya Manurung: Diplomasi "Emas" Swiss Luluhkan Trump, Indonesia Tak Bisa Asal Tiru karena KPK, tapi Ada Cara Lain Aksi mogok terjadi di tengah musim liburan, periode penting bagi penjualan
Starbucks.
Meski dihantam aksi mogok ribuan pekerja, Starbucks menegaskan seluruh gerainya siap melayani pelanggan. Juru bicara Starbucks, Jaci Anderson, mengutip CNBC Internasional dan dilansir dari CNBC Indonesia, Minggu (23/11/2025), menyatakan bahwa 99 persen dari 17.000 gerai di AS tetap buka dan beroperasi normal. Ia menambahkan banyak gerai yang disebut ikut mogok ternyata tidak tutup sama sekali, atau hanya tutup sementara sebelum kembali dibuka.