Jakarta(harianSIB.com)
Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus, menyoroti perbedaan mencolok antara langkah cepat Presiden Prabowo Subianto dan lambannya sebagian pembantu presiden dalam menangani bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Iskandar menilai Presiden bergerak sigap dengan turun langsung ke lokasi bencana, memberikan instruksi lapangan dan memobilisasi TNI dalam waktu 24 jam.
Namun, ia menyebut masih ada pejabat yang terlambat bertindak dan menunggu data kumulatif sebelum mengambil langkah. Selain itu, terdapat kepala lembaga yang mengeluarkan pernyataan kontroversial serta kementerian teknis yang saling menyalahkan terkait kerusakan daerah aliran sungai (DAS).
Baca Juga: Taput Belum Pulih, Bibit Siklon Tropis Intai Hingga Akhir Desember "Presiden turun langsung, tapi sebagian pembantunya masih memakai kacamata lama. Yang penting rapi di laporan, bukan cepat di masyarakat. Ini celah kepemimpinan yang sangat terlihat publik," ujarnya, sebagaimana rilis yang diterima harianSIB.com, Selasa (9/12/2025).
Menurut Iskandar, secara regulasi, syarat penetapan Bencana Nasional telah terpenuhi jauh melebihi ambang batas. Korban meninggal telah melampaui 100 orang, pengungsi menembus lebih dari 100.000 jiwa, tiga provinsi terdampak dan kerugian ditaksir mencapai Rp1 triliun.