Medan(harianSIB.com)
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menegaskan pentingnya pendekatan geosains sebagai dasar utama pengambilan kebijakan dalam penanganan bencana dan perencanaan pembangunan nasional. Selama ini, respons terhadap bencana di Indonesia dinilai masih cenderung reaktif dan belum berbasis pencegahan.
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia periode 2023–2026, Mirzam Abdurrachman, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi melalui talk show dan forum group discussion (FGD) di Jakarta, Senin (26/1/2026), sebagaimana rilis yang diterima harianSIB.com, Selasa (27/1/2026).
"Kami berharap dari pengalaman bencana yang terjadi, kita tidak lagi merespons secara reaktif. Geosains harus menjadi dasar pengambilan keputusan," ujar Mirzam.
Menurutnya, bencana yang berulang menunjukkan aspek geosains belum ditempatkan secara proporsional dalam kebijakan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan pengelolaan risiko bencana. Padahal, pendekatan geosains memungkinkan pemetaan wilayah rawan, relatif aman, serta jenis ancaman bencana di suatu daerah.
Baca Juga: Perkuat Sinergi, Bupati dan Wabup Batubara Audiensi dengan Pangdam I/Bukit Barisan "Jika geosains diletakkan di awal, kita bisa menentukan daerah mana yang berbahaya dan mana yang relatif aman. Penanganannya tentu berbeda, termasuk alih fungsi lahan dan penguatan infrastruktur," katanya.
Mirzam menjelaskan, posisi geologis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik menjadikan negeri ini kaya sumber daya alam, namun sekaligus memiliki risiko bencana tinggi. Karena itu, geosains perlu menjadi fondasi dalam tata ruang, mitigasi bencana, dan pembangunan nasional.