Jakarta(harianSIB.com)
Di tengah krisis yang menekan industri daging babi terbesar di dunia, China mulai mengambil arah baru. Saat harga jatuh akibat kelebihan pasokan, Negeri Tirai Bambu mengurangi ketergantungan pada daging babi putih impor dari Barat dan beralih ke babi hitam lokal yang dinilai lebih berkualitas dan bernilai premium.
Pergeseran ini mencerminkan perubahan selera konsumen, terutama kelas menengah. Di saat produsen tertekan oleh turunnya harga babi putih, konsumen justru rela membayar lebih mahal demi kualitas rasa, nilai kesehatan, dan tradisi.
Hal ini tercermin dari pengalaman Gao Xianghua, yang menjelang Imlek membeli produk babi hitam senilai 1.000 yuan. Ia ingin anak-anaknya menikmati daging berkualitas seperti yang ia rasakan semasa kecil, seperti dikutip Reuters dan melansir CNBC Indonesia, Senin (2/2/2026).
Bagi banyak warga China, babi hitam bukan sekadar makanan, melainkan simbol nostalgia dan tradisi keluarga. Teksturnya yang lebih berlemak dan empuk membuatnya dijuluki "wagyu-nya daging babi", meski harganya bisa empat kali lipat dibanding babi putih.
Baca Juga: Dua Jenderal Tertinggi China Dicopot, Diduga Bocorkan Rahasia Nuklir dan Rencana Kudeta Sementara itu, industri babi
China masih tertekan. Pendapatan industri turun 14,6 persen, dengan laba produsen besar merosot tajam. Namun di tengah krisis, babi hitam menjadi titik terang.
Peternak Yang Xinchun meraih laba lebih dari 1 juta yuan dari 1.000 ekor babi hitam, menutup kerugian dari babi putih. Tren ini kini menarik minat perusahaan besar. Sejumlah produsen mulai memperluas ternak babi hitam, menjadikannya harapan baru industri daging babi China di tengah krisis berkepanjangan.(*)