Jakarta (harianSIB.com)
Perayaan Tahun Baru Imlek di China kini mengalami transformasi di kalangan generasi muda yang mulai merayakan secara virtual, mulai dari membakar dupa digital, bertukar hadiah elektronik, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Tradisi ziarah ke kuil pun bergeser ke praktik cyber worshipping melalui siaran langsung berisi dupa virtual, lentera berkedip, dan patung Buddha yang menghadirkan suasana relaksasi.
Dilaporkan South China Morning Post melansir CNNindonesia, sejumlah aplikasi menghadirkan simulator kayu ikan elektronik untuk membantu meredakan stres. Situs kuil daring juga menawarkan layanan penawaran dupa dan pemujaan Buddha virtual dengan biaya terjangkau, serta telah menarik ratusan ribu pengguna yang menyalakan lampion dan mengikat pita doa secara digital.
Fenomena ini dipicu tekanan sosial selama liburan Imlek, seperti pertanyaan tentang pernikahan, karier, dan penghasilan, yang mendorong sebagian anak muda mencari kenyamanan lewat ritual digital dan pendamping AI.
Baca Juga: Dukung Pesantren Kilat IRMSAPS, Bupati Sergai Tekankan Pentingnya Etika Generasi Muda Seorang perempuan bernama Su Ran di Beijing mengaku karakter AI di ponselnya mampu meredakan kecemasan saat merayakan Imlek sendirian, sementara kalangan konselor menilai hadiah digital lebih praktis dan sesuai dengan gaya hidup
generasi muda.(*)